Antar Kita
30 Juni 2003
Persami 2003 Komisi Anak GKI Pondok Indah
Seperti sudah berlangsung setiap tahun, tahun ini Komisi Anak kembali menyelenggarakan acara PERSAMI, singkatan dari Persekutuan Sabtu Minggu, yang merupakan acara khusus bagi anak kelas 5 dan 6 SD. Tahun ini, acara PERSAMI diadakan di Shekinah Village, Depok, pada tanggal 14 dan 15 Juni 2003.

Pukul 11.30 tanggal 14 Juni, anak-anak peserta PERSAMI berkumpul di lobi GKI Pondok Indah. Di sini mereka melakukan daftar ulang, pembagian kamar, makan siang dan tentu saja doa bersama sebelum berangkat.

Sesuai jadwal, pukul 12.30 para peserta PERSAMI beserta para kakak-kakak pengasuh berangkat menuju Shekinah Village dengan kendaraan masing-masing. Peserta PERSAMI dari Kemang Raya belum tiba, mereka dijemput setelah mobil mengantarkan peserta dari Pondok Indah. Karena itu mereka terlambat, dan panitia terpaksa harus mengubah jadwal. Anak-anak dipersilakan masuk ke kamar masing-masing, mandi dan beristirahat. Sekitar pukul 15.30, saat snack, para pengasuh mendapat kabar gembira bahwa anak-anak Kemang Raya sudah hampir tiba, dan pada pukul 16.00 acara PERSAMI resmi dibuka.

Acara diawali dengan permainan perkenalan yang cukup seru dan kemudian dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Saat anak-anak sudah terbagi menjadi kelompok-kelompok dan sedang membuat yell-yell, terjadilah ‘insiden’ di ruangan yang dipakai, karena aliran listriknya mati. Acara yell-yell dan permainan yang kedua akhirnya dilakukan di luar ruangan, sementara para pengasuh memindahkan barang-barang dan menyiapkan aula yang lebih besar untuk sesi pertama.

Sesi pertama yang dibawakan oleh Kak Riani Suhardja mengambil tema ‘Aku Bahagia’ dibuka dengan babak pertama dari sebuah lenong yang dibawakan oleh para pengasuh beserta Inggrid, seorang anak remaja yang diminta bantuannya. Kak Riani membawakan sesi ini dengan berbagai permainan, sehingga anak-anak sangat antusias mengikutinya.

Menjelang akhir acara, kami juga bersama-sama merayakan ulang tahun Jojo, salah seorang peserta. Kemudian sesi pertama ditutup oleh lenong kembali, babak kedua ini dengan bintang tamu Lia, seorang murid kelas 1, yang memainkan perannya sebagai seorang anak Tuhan yang taat dan setia dengan sangat baik, tegas dan jelas.

Seharusnya saat ini makan malam sudah tersedia, tetapi rupanya ada sedikit keterlambatan, sehingga Kak Riani dan para pengasuh lainnya harus menyediakan acara mendadak sambil menunggu. Berkat acara mendadak ini, para peserta menjadi lebih kenal satu sama lain, dan tentu saja, semakin lapar (hahaha!) sehingga makan malam dilahap dengan cepat.

Tibalah saatnya untuk sesi kedua, dengan tema ‘Jika Yesus Bukan Milikku’. Lampu ruangan dibuat remang-remang, dan setiap orang mendapat topeng hitam untuk dipakai (yang sempat membuat beberapa peserta ketakutan, maaf ya). Dalam sesi ini Kak Riani membahas tentang dosa yang menyelimuti manusia, dan akibatnya adalah maut, serta hanya Yesus yang sanggup menyelamatkan kita.

Usai sesi kedua, para peserta ‘diusir’ ke luar ruangan, sementara para pengasuh mempersiapkan ruangan untuk sesi ketiga, yaitu dedication service. Kurang dari 15 menit kemudian, para peserta kembali dipersilakan masuk ke dalam ruangan, yang hanya diterangi oleh kurang lebih 60 buah lilin.

Masing-masing peserta duduk di hadapan sebuah lilin dan sebuah amplop. Selama acara dedication service ini, para peserta diundang untuk mengakui dosa-dosa mereka, dan datang kepada Yesus yang akan menyelamatkan mereka dan menjadi sahabat mereka selamanya. Di akhir acara, peserta yang masih ada di dalam ruangan didoakan secara pribadi oleh kakak-kakak pengasuh, dan usailah acara pada hari pertama.

Tentu saja, meskipun dijadwalkan untuk tidur, hampir tidak ada anak yang tidur sesuai jadwal. Hingga pukul 3 pagi, masih ada saja anak-anak yang mengobrol, bahkan keluar-keluar kamar.

Parahnya lagi, pukul 4, hampir semua anak laki-laki telah bangun, keluar kamar, berteriak-teriak bahkan ada yang main basket. Sekitar pukul 4.30 hampir semua anak telah segar bugar dan siap untuk berolahraga (padahal jadwalnya jam 5.30), tapi... mana kakak-kakak pengasuhnya?? Rupanya masih pada tidur pulas di kamar masing-masing. Kasihan kakak-kakak kecapekan....

Akhirnya pukul 5, karena melihat gejala anak-anak hendak bersiap-siap tidur lagi (haah?) beberapa pengasuh mengambil inisiatif untuk memulai senam pagi. Anak-anak yang masih tidur (kurang lebih 5 orang saja) dibangunkan dan gerakan pemanasan pun dilakukan di lapangan. Tiba-tiba turunlah hujan! Untung tidak terlalu deras, dan untung sudah pindah ke aula besar, acara senam poco-poco pun dilanjutkan di dalam ruangan.

Selesai senam, terjadilah kehebohan berebut kamar mandi. Tapi anak-anak laki-laki memutuskan mengatasi masalah ini dengan menikmati fasilitas kolam renang yang ada, dan menguntungkan juga bagi anak-anak perempuan yang akhirnya memanfaatkan kamar mandi laki-laki (hehehe).

Acara pagi ini lagi-lagi mengalami keterlambatan karena anak-anak lebih memilih untuk renungan di kamar, padahal seharusnya renungan per kelompok (sapa sih yang ngajak renungan per kamar?!?), tapi keributan ini pun akhirnya berhasil diatasi. Sarapan pagi berupa nasi goreng segera habis dan acara berlanjut ke kebaktian pagi.

Kebaktian pagi ini bertema ‘Aku Mau Bertumbuh’ dan dibawakan oleh Ibu Rosita Boham. Seusai kebaktian, anak-anak disuguhi snack berupa pisang goreng dan usai snack adalah waktunya untuk sesi 4, yaitu sesi mengenai ‘Narkoba dan dampaknya’. Sesi ini seharusnya dibawakan oleh Ibu Ratna Suwandono, tetapi Ibu Ratna tiba-tiba menderita sakit tenggorokan dan tidak dapat berbicara sedikitpun, sehingga sesi 4 dibawakan oleh Kak Joseph. Untung Bu Ratna mempersiapkan semua bahan dengan sangat rapi dan bagus, sehingga sesi 4 ini betul-betul menarik bagi anak-anak (apalagi karena diawali dengan film kartun tentang Narkoba).

Usai sesi 4, seperti biasanya anak-anak men-dapat ‘tugas’ untuk mengisi kuestioner, dan sesudah itu mereka mendapat kunjungan dari kakak-kakak remaja yang menjelaskan tentang kelas pra-remaja, tentunya sangat berguna bagi murid kelas 6 yang akan segera memasukinya. Acara dilanjutkan dengan makan siang dan latihan untuk Pentas Persami. Anak-anak berlatih dengan sangat antusias ditemani oleh kakak-kakak pengasuh masing-masing. Tema “Aku Bahagia, Karena Yesus Milikku.”

Kurang lebih 45 menit kemudian, Pentas Persami pun dimulai. Ada beberapa orangtua datang untuk ikut menikmati hasil latihan anak-anak. Dalam acara ini setiap kelompok menampilkan kreasi mereka, sesuai tugas yang diberikan.

Kelompok pertama yaitu kelompok Dorkas menampilkan gerak dan lagu. Dilanjutkan oleh kelompok Paulus yang menampilkan ludruk dengan cerita kehidupan Samson bersama Tuhan, sebagai sub-tema. Kelompok yang tampil ketiga adalah kelompok Stefanus, membawakan drama mengenai perubahan yang terjadi jika Yesus ada di tengah keluarga. Yang keempat kelompok Timotius, membawakan sebuah lenong dan terakhir (karena berdasarkan urutan abjad) adalah kelompok Zakheus dengan puisinya mengenai apa yang membuat mereka bahagia bersama Yesus.

Juri bekerja dengan cepat, dan setelah pembagian sertifikat kepada masing-masing anak, diadakanlah pengumuman pemenang, sesuai dengan Kreatifitas, Kekompakkan, Kedisiplinan dan Keaktifan masing-masing kelompok. Juga ada pemilihan dan penobatan peserta dan pengasuh ter-....

Setelah pembagian hadiah, acara Persami ditutup dengan doa, dan anak-anak pulang bersama orangtuanya yang sudah menjemput. Ada juga yang masih ingin berenang dan memancing. Sempat ada pula anak yang protes... katanya Persami terlalu sebentar, kenapa tidak 3 hari 2 malam? (aiko)
 
>> Arsip
 

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003